Bogor// nusantararaya.com/ Mengajar baca,tulis dan berhitung untuk usia pra SD, sekitar 4-6 tahun tidak segampang yang orang duga.
Bayangkan mengajar anak dari dasar seperti pengenalan abjad dan angka kepada anak yang sama sekali buta huruf angka, bahkan belum bisa memegang pensil dengan benar. ( 1/5/2024)
“Sebelum mengajar abjad dan angka, siswa harus dibuat nyaman dan senang dulu,” kata Ibu Eva menjelaskan.
Untuk itu guru harus ramah dan suka buat kata-kata lucu agar siswa ketawa minimal tersenyum. Bila ada rasa tertarik dan suka maka materi calistung bisa diajarkan bertahap.
Berbekal ilmu pendidikan jurusan Bahasa Inggris dari IKIP NEGERI SURABAYA (sekarang UNESA) dan juga kecintaan kepada anak-anak membuat ibu ini nyaman mengajar Calistung. Calistung Anna Klara yang diambil dari nama ibundanya yang dulu mengajar di SDN Cendrawasih Makassar menjadi nama Rumah Calistung yang dibinanya.

Kasih sayang adalah modal dasar dalam menjalin hubungan guru siswa , kata Ibu Eva lagi.
“Saya bahagia mengajar Calistung karena anak-anak yang datang belajar,saya anggap anak sendiri ,” katanya lagi. Supaya tidak jenuh habis belajar anak-anak terkadang disuguhi kudapan dan minuman sirup. Sehingga belajar bagi mereka menyenangkan.
Lama berkecimpung karier di kantor , rutinitas membuat ibu Eva merasa tidak ada tantangan yang menarik. Ibu yang pernah mengecap kuliah di UNIKA WIDYA MANDALA SURABAYA ini pernah lama menjabat Accounting Manager di Perusahaan Fabrikasi Baja PT GERBANG TATA GEMILANG di Gunung Putri Bogor menjatuhkan pilihan mengajar saat resign.
Mengajar memakai pendekatan berbeda kepada setiap anak.Ada yang lambat membaca tapi cepat menulis,dan ada juga yang lambat menulis tapi cepat berhitung.
Pelukan ,usapan bahkan memangku siswa yang lagi tidak mood belajar diterapkan agar anak tidak lama ngambeknya.
“Kebanggaan seorang guru Calistung bukan saat siswa itu bisa baca,tulis dan berhitung. Tapi saat siswa itu ngotot tetap masuk belajar saat sakit dan hari libur,” kata penutup ibu Eva sambil tersenyum.( red)






