KOTIM // NUSANTARARAYA.COM / Memasuki musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada bulan Juni ini, Kepala BPBD Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam,
menyebutkan potensi terjadinya ancaman kebakaran hutan dan lahan cukup tinggi di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Untuk daerah yang berpotensi terjadi Karhutla sesuai dengan dokumen kajian resiko bencana tetap di wilayah selatan Kotim, mulai dari Kecamatan Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Seranau, Cempaga, Cempaga Hulu dan Parenggean, tetapi di daerah lain tidak menutup kemungkinan tetap dapat terjadi potensi kebakaran,” kata Multazam, dikutip Sabtu (31/05/2025).
Ia pun menghimbau kepada masyarakat agar dapat lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, dan tidak membakar lahan secara sembarangan.
“Kita tentunya berharap agar masyarakat lebih peduli pada lingkungan, karena bagaimanapun kalau membakar hutan atau membuka lahan dengan cara membakar itu tentu tidak arif karena lahan dan hutan itu nantinya adalah untuk anak cucu kita,” ujarnya.
“Saat Apel Kesiapan Peralatan dan Personil di Polres Kotim beberapa waktu lalu Kapolres juga menegaskan akan menegakkan hukum terkait dengan pembakaran hutan dan lahan, dan hal ini sinergis dengan daerah,” jelasnya.
“Berdasarkan informasi dari BMKG Cilik Riwut Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur akan memasuki musim kemarau pada dasarian dua bulan Juni, dan itu akan diestimasi paling panjang akan terjadi sekitar 4 bulan 10 hari,” ucapnya.
Hal ini menurutnya, tentu akan menjadi perhatian daerah, BPBD pun tetap siap siaga.
“Kita akan kedepankan upaya-upaya mitigasi secara bersama-sama karena bencana Karhutla ini adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
“BPBD Kotim juga menangkap beberapa potensi bencana lain yaitu bencana kekeringan. Bencana kekeringan ini akan berpengaruh kepada kehidupan dan penghidupan, jadi untuk manusia dimungkinkan kekeringan ini akan berdampak pada ketersediaan air bersih, terutama di wilayah Kecamatan Teluk Sampit dan sekitarnya,” ucapnya.
“Kemudian kekeringan juga akan berpengaruh pada tanaman, khususnya untuk tanaman padi. Kita berharap akan ada upaya-upaya tambahan mitigasi bahkan ada upaya-upaya penanganan nantinya apabila terjadi kekeringan di daerah-daerah persawahan, seperti daerah Lempuyang,” tukas Multazam.
(Tbk)









