KOTIM, MEDIA NUSANTARA RAYA.COM – Perselisihan yang berujung aksi penganiayaan terjadi di area SPBU Samuda, Jalan H.M. Arsyad Km 39, Desa Jaya Kelapa, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (6/5/2026) pagi.
Dalam peristiwa tersebut, seorang pemuda berinisial PK (25) diduga melakukan penganiayaan terhadap MM yang merupakan seorang pengemudi armada.
Namun, perkara tersebut akhirnya diselesaikan melalui mekanisme keadilan restoratif atau Restorative Justice.
Merespons laporan kejadian itu, jajaran Polsek Jaya Karya bergerak cepat mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus melakukan pencarian terhadap pelaku.
Sehari setelah kejadian, Kamis (7/5/2026), PK akhirnya datang menyerahkan diri ke Polsek Jaya Karya dengan itikad baik untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Kapolres Kotawaringin Timur AKBP Resky Maulana Zulkarnain, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kasi Humas AKP Edy Wiyoko, S.E., membenarkan adanya penyerahan diri tersebut.
Ia menjelaskan, pada Jumat (8/5/2026) bertempat di Aula Polsek Jaya Karya Samuda telah dilakukan proses mediasi dan penandatanganan surat kesepakatan damai antara kedua belah pihak.
“Permasalahan tersebut diselesaikan secara damai melalui mekanisme Restorative Justice, mengingat kedua belah pihak masih memiliki hubungan keluarga,” ujar AKP Edy Wiyoko, Jumat (9/5/2026).

Dalam kesepakatan itu, pihak terlapor PK bersedia mengganti biaya pengobatan sekaligus memberikan santunan kepada korban MM.
Setelah seluruh isi kesepakatan dipenuhi, maka perkara antara kedua belah pihak dinyatakan selesai.
Selain itu, terlapor juga membuat surat permohonan penyelesaian perkara melalui mekanisme keadilan restoratif.
Sementara pelapor MM membuat surat pencabutan laporan dan tuntutan yang diketahui kepala desa setempat.
Kasi Humas juga mengimbau masyarakat, khususnya para pengantre BBM di SPBU, agar tetap mengedepankan kesabaran dan etika dalam beraktivitas di fasilitas umum.
“Kami dari Kepolisian mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya para pengantre BBM di SPBU, agar selalu mengedepankan kesabaran dan etika. Antrean yang panjang mungkin melelahkan, namun kekerasan bukanlah solusi. Mari kita saling menghormati sesama pengguna jalan dan fasilitas umum agar situasi kamtibmas di wilayah kita tetap kondusif,” pungkasnya.
(Tbk)




