Bogor // nusantararaya.com/ Sebagai Wakil Ketua Bidang Kesehatan, Perempuan dan Anak di partai politik pemenang pemilu dan juga sebagai Ketua salah satu ormas besar di Bogor yang terkenal akan pelayanan ambulancenya.
Lahir di Brebes tepatnya tanggal 3 Mei 56 tahun yang lalu, Mba Sasha,nama akrabnya juga disibukkan dengan aktifitasnya sebagai Wakil Ketua di GOW ( Gabungan Organisasi Wanita), Sekretaris di Perwosi ( Persatuan Wanita Olah Raga Seluruh Indonesia ) selama 3 periode, Sekretaris KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia). ( 6/5/2024)
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, kata Mba Sasha ketika memulai wawancara ini.
Ibu adalah madrasah untuk anaknya belajar agama, etika,norma dan semua hal. Sehingga mba Sasha mengingatkan betapa pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan . Tingkat intelektual seorang ibu mempengaruhi bagaimana cara dia mendidik anak . Bukan hanya itu, tapi bisa juga memberi nilai lebih kepada ekonomi keluarga, bisa sebagai pendamping suami dalam mencari nafkah bagi keluarga.
Ketika ditanya bagaimana dengan tingkat pendidikan perempuan di Kabupaten Bogor. Mba Sasha mengatakan sangat rendah, rata-rata cuma Sekolah Dasar . Maka tidak heran terbiasa melihat perempuan anak menggendong anak. Pernikahan dini di Bogor menyebabkan tingkat perceraian tinggi, kekerasan dalam rumah tangga juga tinggi.Tapi biasanya kdrt ini ditutup-tutupi kata Mba Sasha lagi.

Karena rendahnya pendidikan kaum ibu menciptakan juga anak-anak stunting, karena mereka tidak sadar pentingnya kesehatan janin dalam kandungan. Pemberian makanan bergizi diberikan saat ibu hamil bukan saat anak sudah lahir.
Mba Sasha sangat mengerti dan memahami masalah ini karena sehari-hari menghadapi kasus-kasus perempuan di P2TP2A ( Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan Anak) Kabupaten Bogor, yang berkantor di Pemda Cibinong.
Mantan dosen ini , yang suka menampung anak-anak miskin untuk disekolahkan bahkan dikuliahkan ini juga membagikan pengalamannya ketika mengambil Pascasarjana untuk sertifikasi dosennya. Ternyata keuntungannya bukan hanya itu, tapi Mba Sasha sering diminta menjadi narasumber di seminar-seminar.
Ada 3 hal yang harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan perempuan, katanya lagi.
1.Penyuluhan-penyuluhan
2.Perempuan menyadari kekurangan diri dan mau meningkatkan diri seperti meningkatkan pendidikan, skill, ekonomi.
3.Perempuan mendukung pemimpin perempuan. Hanya perempuan yang bisa mengerti permasalahan perempuan. Mirisnya tidak semua perempuan mau mendukung calon pemimpin perempuan.Sehingga permasalahan lain lebih terlihat daripada permasalahan kaum ibu.
Mba Sasha ,ibu dari seorang putri yang sudah menginjak usia dewasa, menjawab dengan cepat siapakah sosok yang menjadi tokoh idolanya.
“Almarhumah Carsiah,ibuku sendiri ,” tandasnya.
Ibunda Mba Sasha adalah perempuan hebat dan tangguh. Cepat ditinggalkan suaminya yang meninggal dunia dengan kondisi hamil anak ke 6, saat anak-anak masih kecil. Berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya sampai semua menjadi insan mandiri dan sukses.
Dari Mba Sasha kita bisa belajar bahwa Perempuan Bermutu adalah Perempuan Berilmu.
(eva lahi)









